Rabu, Juni 17, 2009

Pertemuan Kembali (dr. Lina)

THE ANXIOUS DAYS

Tak terdengar lagi suara-suara tape recorder, TV, dan juga suara orang-orang yang biasa main bulu tangkis dihalaman balai kecamatan. Yang terdengar hanya suara-suara binatang malam. Jengkerik, belalang, katak, dan burung hantupun sedang melantunkan lagu riangnya, dengan suara hasnya yang menakutkan. Dan suara deburan ombak dilautanpun semakin terdengar jelas. Sesekali terdengar suara kokok ayam jantan sayup-sayup. Malam sudah sangat sunyi. Pertanda malam memang benar-benar sudah larut. Dirumah yang cukup besar bercat serba putih ada seorang perempuan hidup sendiri. Sudah begitu larut malam ia belum bisa tertidur. Ia duduk termenung diberanda rumah yang terhias berbagai bunga berharga tertata sangat rapi. Sesekali ia pergi kehalaman, dan menengadah kelangit seakan sedang menerawang jauh keluar angkasa, dan kemudian kembali lagi ke beranda rumah menghidupkan TV. Tak nampak ingin menikmati sajian program acara lewat midninght, malah ia nampak menghidupkan TV, seperti hanya sebagai kawan jaga saja. Tak jarang ia pergi kebawah papan bertruliskan “dr. LINA BUKA PRAKTEK JAM 8.00 – 22.00 KECUALI HARI JUM’AT” yang terletak didepan rumahnya. Ia memandanginya dengan pandangan kosong (the empty sight). Seperti memandangi papan yang tak bertuliskan apa-apa. Atau seperti memandang benda yang tak berguna, tak bernilai(nothing). Rumah mewah, duit banyak, mobil mengkilat, kebun karet-coklat-kelapa sawit puluhan hektar, tak sanggup mengusirnya dari rasa kesepian (lonely) yang telah beberapa minggu menghinggapinya. Ia sedang gelisah. Entah apa yang sedang dipikirkan. What’s she thinking about?

Hari Ahad Agustus 1999.

“Pak Guru Joni, tolong lepaskan papan praktek ini”.

Pak guru Joni sangat terkejut dimintai tolong bu dokter untuk mencopot papan nama tanda praktek dokter Lina. Mengapa tiba-tiba ia minta tolong kepadanya untuk mencopot papan nama yang terkenal sangat keren (impressive) bagi warga masyarakat di kota kecamatan Natal.

“Lho ... bu dokter, apa bu dokter mau tutup praktek?” “Kemana nanti bisa berobat, murid-murid kami dan teman-teman serta masyarakat bila mereka sakit?”. “Bu dokter kan satu-satunya disini?” Tanya Pak Guru Joni penuh kecemasan.

Mendapat pertanyaan tersebut dokter Lina tersentak (jerked). Belum pernah terbanyangkan dibenaknya selama ini kalau keberadaanya menjadi tumpuan harapan semua lapisan masyarakat, dikala mereka mau berobat. Ia baru sadar, bahwa dirinya hanya satu-satunya dokter ditempat ini (she’s the only). Pak Guru Joni yang sebenarnya belum ia kenal dengan baik saja memberikan pertanyaan yang penuh harap-harap cemas (feel anxious). Hatinya semakin bergejolak (flare up), semakin galau (disturbance). Dengan agak sedikit gugup, ia lalu menjawab pertanyaan Pak Guru Joni sekenanya saja.

“Gimana ya ......... tutup sih gaaak?”

“Tapi mengapa papan itu dicopot bu dokter?”

“Enggaa....k, hanya sekedar mau dibersihkan saja”.

“Tapi kan masih sangat bersih bu dok?”

“Ya ......... sekedar mau ganti corak dan catnya saja. Agar lebih nampak indah dan menarik saja, sekaligus untuk mengenang ......... ”

“Mengenang apa bu dok ?”

“Masa lalu” Jawab dokter Lina lirih dan singkat, sambil menarik nafas dalam-dalam.

Setelah mengucapkan kata-kata itu dokter Lina mengernyitkan keningnya, nampak wajahnya berubah, dan nafasnya naik turun tak teratur. Kemudian berjalan mondar mandir kearah beberapa pot bunga yang tertata rapi diteras depan rumahnya meninggalkan Pak guru Joni sendirian. Satu persatu pot yang sudah semua tertanami bunga itu dihampirinya. Daun-daunnya dibelai dengan jemarinya yang lentik dan lembut. Bunganya dicium dengan sangat mesranya dengan hidungnya yang mancung, seperti mencium anak bayi yang disayanginya. Setelah puas bercumbu dengan bunga-bunga aneka ragam tersebut, ia berjalan menuju pojok halaman depan kanan rumahnya. Disana ia jongkok menjulurkan tangannya kekolam ikan hias. Dengan tangannya ia berkali-kali meraih air, dan kemudian melemparkannya kembali kesegala penjuru kolam, seakan ia sedang bercanda dengan seluruh ikan hias penghuni kolam tersebut. Lantas ia membasuh tangannya yang sebenarnya tidak kotor. Lalu ia pergi kehalaman samping menatap deretan kandang unggas, dan memandanginya satu-persatu sangkar burung yang digantung rapi disamping rumah. Pada akhirnya ia kembali lagi kehalaman depan, menengadah keatas memandang awan tipis yang sedang berjalan perlahan, seakan membisikkan sesuatu pesan agar disampaikan kepada seseorang nun jauh disana.

Sementara dr. Lina berbuat yang agak aneh Pak Guru Joni hanya bisa memperhatikan saja dengan seksama. “Last Memories”. Well ......... welllllll”. Gumam Pak Guru Joni dalam hati. Ia merasa bersalah. Pertanyaan yang ia sampaikan menyebabkan dr. Lina seakan sedih, bertindak agak aneh, dan tidak terkontrol, dan mengingatkan masa lalunya yang entah semacam apa... Dengan hati-hati Pak Guru Joni bertanya:

“Bagaimana bu dokter, jadi dicopot apa tidak papannya?”

“Oh ya. Jadi ...?” jawab dr. Lina singkat, agak terkejut dan gemetar.

“Taruh dimana nanti bu dokter?”

“Taruh saja diteras samping”.

Setelah menjawab pertanyaan itu buru-buru dr. Lina menghambur masuk kerumah dan tidak keluar-keluar lagi. Pak Guru Joni menjadi bengong ditinggalkan sendirian dihalaman rumah. Tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Setelah menunggu bebarapa saat dr. Lina tidak keluar, dengan perasaan gak karuan ia akhirnya pulang kerumah.

Pak guru Joni dan masyarakat sekitar tempat praktek dokter Lina, tidak pernah tahu siapa sebenarnya dokter Lina. Karena ia dokter pendatang dari tempat yang sangat jauh. Dan ketika ditanya tentang pribadinya ia tidak memberikan jawaban yang jelas, sesuai dengan kehendak penanya. Bahkan ia selalu bisa menghindar dengan halus, dan pandai mengalihkan topik pembicaraan kepada hal-hal yang lebih umum (more general), tanpa disadari oleh penanya. Kepala lorongpun tidak pernah tahu siapakah sebenarnya dokter Lina. Dimanakah keluarganya, berapakah anaknya, dan siapakah orang tua dan suaminya. Masyarakatpun selalu penasaran (curious) siapa sebenarnya bu dokter Lina ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa tahu tentang pribadi dokter Lina, tapi selalu gagal (fail), akhirnya mereka hanya bisa menyimpan rasa penasaran tersebut dalam hati (keeping it in their heart themself). Yang penting mereka bisa berobat kepadanya bila mereka sakit.

Pak Guru Joni hanya bisa menduga-duga tentang “remember last memories” ucapan dokter Lina. Pak guru Joni sebenarnya telah lama ingin bisa kenal closer dengan dokter Lina. Karena dia sudah lima tahun mengajar ditempat itu juga, dan ia masih unmarried, alone again. Diapun lonely. Tapi sudah sekian tahun belum juga bisa closer dengan dokter Lina. Walaupun tempat tinggalnya hanya across the street saja. Tip dokter Lina opened woman dan sekaligus covered. Bila berbicara tentang development dan progress ia sangat antusias. Tapi ketika disinggung tentang hal yang lebih personal ia segera mengalihkan topik pembicaraan dengan halusnya dan kemudian segera menutup conversation dengan berbagai macam reasons. Watering flowers, washing, membenahi practice tools, make telephone call dengan keluarga yang jauh, menyelesaikan monthly report, sampai alasan mau melaksanakan prayer. Pokoknya selalu ada saja alasan yang memang reasonable and logical.

Remember Last Memories guman Pak Guru Joni disuatu malam yang sunyi”.”Oh ... dokter Lina, kind, polite, sincere, attractive, elegant, beautiful, slim, and rich or wealthy”. “She’s a great and marvelous woman”. “But mengapa ia nampak gelisah, kurang tenang”. “Apakah ia cerai dengan suaminya”. “Atau ia putus cinta dengan pacarnya”. “Atau .........” ”Gak sadar, akupun ternyata anxious juga” “Apakah bu dokter maiden, atau widow atau statusnya bersuami”. “Tapi kalau ia bersuami, sudah lima tahun suaminya kok gak pernah menjenguk”. “Kalau ia janda, kok gak ada anaknya yang ngikut”. “Apa janda tanpa anak”. “Atau bahkan ia masih maiden. “Kalau ia masih maiden tapi dia kok sudah jadi dokter, umurnya sudah cukup”. “Her face’s very beautiful seperti bidadari, masak gak dapat suami”. “Kalau saja ia masih single, baik maiden atau widow tanpa anak atau punya anak sekalipun, if she likes me, I’ll be very happy”. “Oh... I’m crazy, membayangkan orang lain yang belum tentu She Loves Me”. “Bagaikan katak merindukan bulan, as a frog yearns the moon in the sky” . “Kapan-kapan aku ingin bisa ngobrol dengan dia, tapi harus masuk melalui pintu masalah apa”. “Tapi ada kata pepatah jawa “DALANG GAK KENTHE’AN LAKON”. “Walaupun aku bukan orang jawa, aku yakin benar pepatah itu tepat”. “Guru mesti bisa berbuat apa saja, demi untuk tujuan kebaikan”. “Dia dokter, punya tanaman obat keluarga (toga), pot bunga, kolam ikan hias, taman bunga, unggas, burung-burung piaraan, suka bicara kemajuan dan pembangunan, punya perkebunan, dan masih banyak yang lainnya... “Aku bisa masuk melalui pintu-pintu masalah tersebut untuk bisa ngobrol dengannya”. Kalau gagal yang satu, kucoba masuk pintu masalah yang lain”. “Di sela-sela asiknya perbincangan akan kumasukkan kata-kata yang halus, manis, dan menyentuh hatinya sedikit demi sedikit. Sehingga ia tak terasa sudah terbawa arus kata-kataku yang meliuk-liuk dan secara tak sadar ia sudah masuk kedalam perangkap kalimat-kalimat cinta yang aku pasang”. ”A good idea”. “a smart idea” .“Aku tak boleh putus asa atau istilah kerennya desperate atau hopeless”. “She’s a doctor, and I’m a theacher”. “It Will look suitable and harmonious”.

Senin Agustus 1999

“Selamat pagi bu dokter”

“Pagi ... Oh pak guru. Ada apa Pak Guru, ada yang bisa saya bantu?” Sapa dokter Lina dengan ramah seakali.

“Terima kasih, maaf mengganggu bu dokter” Timpal Pak Guru Joni.

“Tidak ... sama sekali tidak mengganggu” Jawab dokter Lina sangat bersahabat.

“Ini ... murid saya batuk-batuk, dan pilek”.

“Sini nak... coba saya lihat”.

Dokter Lina memeriksa denyut jantung, mata, dan telinganya. Selama dokter Lina memeriksa muridnya, PakGuru Joni selalu memperhatikan gerik-gerik dokter Lina. Mulai dari pakaian, alat-alat pemeriksaan, sekujur tubuh (over the whole body) sampai gerak-gerik raut mukanya.”Hmmm ... marvelous”. Gumam Pak Guru Joni dalam hati, sambil menelan ludah (swallow saliva/spittle). Tak lama kemudian dokter Lina berkata kepada Pak Guru Joni.

“Hanya batuk biasa. Disebabkan perubahan cuaca”

“Apa pantangan makannya bu dok?”

“Sementara jangan minum es, makanan yang berkadar lemak tinggi dan jajan-jajanan”.

“Kalau sudah sembuh bagaimana?”

“Tentu boleh-boleh juga asal tidak berlebihan”.

Kemudian dokter Lina memberikan obat, dan menerangkan cara meminumnya dengan tutur kata yang sopan dan halus gaya khas jawanya, Javanese idiom. Beberapa sa’at obat telah diberikan, tapi Pak Guru Joni belum juga pamit, padahal jam pelajaran sekolah masih berlangsung. Dokter Lina agak sedikit kikuk (clumsy) untuk bisa sekedar mengingatkan. Ia hanya bisa menduga-duga (guess) , mengapa pak guru belum juga beranjak dan juga tidak mau bersuara. Seperti ada beban berat (a heavy load/burden) yang sedang ditanggungnya. Apa mungkin takut ongkos periksa dan obat mahal. Atau mau minta keringanan. Atau ... yang lainnya. Suasananya jadi hening (quiet). Tak lama kemudian dokter Lina memecahkan keheningan dengan suara softly dan carefully.

“Sudah selesai pemeriksaannya, bila pak guru ada jam mengajar silahkan. Kasihan sama mereka, sebentar lagi kan sudah ujian mid semester”.

“Berapa bu dok ongkos periksa dan obatnya ... ?”

“Terima kasih... gak usah”.

“Lho ... bu dokter nanti rugi”.

“Ga ...k ... gak rugi”.

“Lantas uang dari mana bu dokter bisa membeli obat”.

“Kami ada obat bantuan dari para dermawan”.

“Para dermawan?” Siapa mereka?”.

“Didunia ini sangat banyak orang yang dermawan (generous), dan tahu diri. Mereka ada yang mau disebutkan namanya dan banyak pula diantara mereka yang tidak mau disebutkan namanya (mistery)” Jawab dokter Lina deplomatis.

“Tapi kan tidak apa-apa disebutkan namanya bu dokter?”

“Ya ... tidak apa-apa”.

“Lantas mengapa mereka tidak mau disebutkan namanya?”

“Mereka ingin keikhlasannya tidak terkurangi”.

“Apa kalau disebutkan bisa mengurangi nilai keikhlasan”.

“Kemungkinan bisa, kemungkinan juga tidak”.

“Pastinya bagaimana bu dokter?” Pak Guru Joni bertanya penasaran.

“Pastinya ya ... keduanya itu” Jawab dokter Lina meyakinkan.

Pak Guru Joni terdiam sambil berguman dalam hati. “Obat gratis, dermawan, tahu diri, tak mau disebutkan namanya, pastinya dua hal yang tolak belakang yang tak mungkin (impossible) dikumpulkan”.”Aneh sekali” (It’s very odd). “Baru kali ini aku menjumpai statements yang benar - benar asing” (remote, strange). “Selama ini yang ku tahu periksa bayar, apalagi obat”.”Para dermawan, selama ini namanya ingin selalu disebut-sebutkan agar ia terkenal dan terhormat dimata masyarakat”. “Pastinya ya ada dua hal yang bertentangan”. “Gak mungkin ada dan tidak ada kumpul jadi satu”. “Tak mungkin siang kumpul dengan malam, tak mungkin baik kumpul jadi satu dengan jelek”.

Sebelum Pak Guru Joni menemukan jawaban semuanya dalam hati. Keburu Dokter Lina memecah keheningan lagi, dengan suara hasnya, javanese idiom.

“Ma’af Pak Guru, itu ada murid-murid pak guru yang menuju kesini”.

“Terima kasih bu dokter. Murid-murid tadi memang sudah kami beri tugas sebelum saya berangkat kesini”. Jawab Pak Guru Joni sambil memberi alasan.

“Jadi sekarang sudah saatnya masuk?”

“Sekarang istirahat bu dokter”. Tukas Pak Guru Joni.

“Mohon ma’af, memangnya pak guru mengajar mata pelajaran apa?”

“Ah ... apa bu, hanya sekedar main-main saja kok saya disekolah ini”. Jawabnya mengelak

“Mohon ma’af bila pertanyaan saya gak berkenan”.

“Oh ... tak apa-apa”.

“Selamat siang pak guru, selamat siang bu dokter, selamat siang semuanya”.

“Selamat siang”. Bu dokter dan pak guru menjawab salam mereka bersamaan dengan ramah.

“Áduh murid-murid yang pinter”. Kata dokter Lina.

“Ayo sini sebentar, saya kasih tahu”. Kata Pak Guru Joni.

“Ia pak guru”. Jawab tiga murid yang baru datang.

“Besuk lagi kalau ketempat orang jangan salam pada yang lainnya. Salam lebih dulu pada tuan rumah. Atau salam saja, gak usah disebutkan satu-satunya ya”.

“Iya Pak Guru, mohon ma’af kami belum mengerti”.

“Murid-murid pak guru benar. Salam lebih dulu kepada bapak, lantas kepada yang lainnya”. Sergah dokter Lina membenarkan murid-murid Pak Guru Joni.

“Apa alasannya bu dokter, kok sikap tersebut benar?” Tanya Pak Guru Joni dengan hati-hati.

“Mereka menghormati terlebih dahulu terhadap orang yang telah berjasa kepada mereka”. “Itu sebagai salah satu bukti bakti mereka kepada bapak”. “Mereka sehari-hari bermain dan belajar dengan bapak”. “Bapak dengan telaten dan kontinyu membimbing dan menyuapi mereka dengan berbagai ilmu setiap hari, dan tidak pernah bosan mendo’akan mereka setiap sa’at agar menjadi orang yang berguna, berbahagia dengan arti yang sesungguhnya”. “Sehingga mereka merasakan pak guru adalah sebagai bapak mereka sendiri”. ”Lebih dari itu, bapak merupakan bagian dari kehidupan mereka, dan bagian yang tak terpisahkan dari pada sejarah kehidupan mereka”. “Itu tidak bisa dipungkiri”. “Dan ilmu yang pak guru berikan sampai kapanpun tidak pernah akan hilang dari mereka”. “Bahkan ilmu tersebut akan mereka jadikan sebagai bekal meniti kehidupan masa depan mereka”. “Hidup yang penuh duri, liku-liku dan tantangan”. “Ilmu yang bapak berikan akan dijadikan alat atau senjata untuk menyelesaikan setiap masalah yang mereka hadapi”. “Bahkan menjadi sahabat setia mereka, dalam menghadapi suka dan duka mereka dalam mengarungi dalamnya lautan kehidupan ini”. “Lebih-lebih kehidupan dialam akhirat kelak”. Terang dokter Lina panjang lebar.

Pak Guru Joni tertegun sejenak mendengarkan untaian kata-kata dokter Lina yang filosofis, didaktis dan mensihir dirinya. Tidak menyangka bu dokter bisa berkata demikian hebat dan dalamnya. Kata-katanya mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi siapa saja yang mau merenungkan dan melaksanakannya. Ia merasa sangat terlambat kenal dengan seorang dokter yang punya pemikiran-pemikiran yang positif dan bisa encourage or generate dan passion mengajar. Selama ia mengajar, belum pernah kawan-kawan seprofesinya berbicara seperti itu. Paling-paling yang mereka bicarakan berkisar building a house, buying lands atau plantations, kridit motor cycle, bonuses, salary increases dan berkisar itu. She’s not only a beautiful doctor but also the best preacher.

Selama bu dokter dan pak gurunya ngobrol, murid-muridnya hanya bisa mendengarkan obrolan mereka, dan merekam setiap untaian kata-kata berharga (wise words) dari mereka berdua. Ia merasa beruntung bisa mendengarkan obrolan dua orang yang sangat berpengalaman dan santun dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Terbetik dihati mereka, suatu sa’at nanti bisa seperti mereka berdua. Pandai, berbicara santun, bijak, penuh arti, dan berguna bagi para pendengarnya. Mereka heran (surprise) terhadap keduanya. Disekolah biasanya Pak Guru Joni paling banyak ngomong. Paling pandai bercerita. Paling pandai bikin kelakar (joke, jest). Dan guru yang paling muda lagi. He’s a clever, polite, kind and a handsome teacher. Maklum ia adalah guru satu-satunya yang bergelar sarjana pendidikan disekolahnya.

Waktu dua jam dirasakan oleh Pak Guru Joni sangat singkat ketika berbincang dengan dokter Lina, bagaikan hanya sepuluh menit saja. Dokter yang flexible. Bicaranya sangat mantap, lugas, halus, runtut, mengandung pelajaran dan filsafat kehidupan, tidak menggurui, dan enak didengar. Setiap kata yang keluar dari bibirnya yang tipis dan mungil bisa menghepnotis para pendengarnya untuk melaksanakan apa yang diucapkannya. Seperti ada daya magnit tersendiri. Sungguh kemampuan yang luar biasa hebat, yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Ingin ia berlama-lama ngobrol dengan bu dokter itu sebenarnya. Ada banyak hal yang ingin diutarakan, mumpung ada kesempatan mumpung jumpa. Tapi seperti pisau tumpul (blunt) lidahnya. Gak mempan. Tidak ada yang bisa dikeluarkan dari mulutnya. Atau kehabisan bahan.

Melihat Pak Guru Joni terdiam, dokter Lina tersadar (awaken) bahwa ia telah berbicara terlalu panjang. Ia menyesal dan merasa bersalah (regret and guilty). Tidak seharusnya ia menggurui pak guru dengan uraiannya yang begitu panjang. Padahal pak guru hanya sekedar mengantarkan muridnya untuk berobat saja. Maka ia buru-buru berkata :

“Ma’af pak guru saya telah berbicara terlalu panjang”

“Ga...k. Gak apa-apa bu dokte...rrr, terima kasih. Justru saya bersyukur mendapat pelajaran yang benar-benar berharga dari bu dokter”. Jawab Pak Guru Joni sedikit gugup.

“Saya rasa apa yang saya sampaikan itu hal yang kecil, hal yang biasa saja. Semua orangpun tahu dan mengerti tentang hal itu. Pak Guru terlalu memuji saya”.

“Pak guru, ini ada titipan pak kepala sekolah untuk bu dokter”. Sela salah seorang murid yang baru datang tadi.

“Oh ya... terima kasih”. Jawab Pak Guru Joni.

“Bu dokter, ini titipan dari pak kepala sekolah”. Ucap Pak Guru Joni.

“Terima kasih banyak pak guru. Tolong nanti sampaikan terima kasih saya kepada pak kepala sekolah”. Jawab dokter Lina.

INSYAALLOH BERSAMBUNG. OKAY

BY M3S

4 komentar:

terbaik mengatakan...

Janji ya. Segera disambung lho. Aku sangat suka dan penasaran terhadap isi tulisan ini. Apa ini memang benar cerita asli. Kalau ya aku ingin kenal dengan dr. Lina. Boleh kan mas M3S

terbaik mengatakan...

Aku penasaran sama dokter Lina. Tolong kenalin aku ya Mas M3S. Cepat disambung tulisannya.

ilyas mengatakan...

Aku ingin kenal dengan dokter Lina. Boleh kan mas M3S. Aku sangat penasaran lho terhadap tulisan ini. Tolong segera disambung ya ! Janji lho Mas

MOHAMMAD mengatakan...

Membaca cerita ini benar-benar terlarut dalam peristiwa yang sesungguhnya. Tolong mas segera disambung ya .....! Enak dibaca